Selesai Pesta

Setelah suaramu dipungut Kau tak lagi berharga ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 2018

Iklan

Karena Kau

Aku dan kau. Sisiku dan sisimu. Pikirku dan pikirmu. Sukaku dan sukamu. Bencimu dan benciku. Yakinmu dan yakinku. Tentangmu dan tentangku. Terhubung oleh perantara tanpa penyangga. Ditiup bara emosi goyang ia ke kiri. Dibelai kasih sayang goyang ia kekanan. Kita harus menjaga seimbang tetap tenang. Tak terlalu gila cemburu, tak terlalu mabuk kepayang. Aih, Kekasih, … Continue reading Karena Kau

Berkarat

Tak ada yang lebih kokoh darimu. Kau paling keras kepala. Dilapisi berbagai hal kau kian kuat. Tujuanmu terang hanya untuk meruntuhkan kuasa langit. Kawan segan, lawan enggan. Hingga kulitmu mulai tanggal. Kau mulai runtuh. Ditiup sedikit angin, tertimpa gerimis. Kau mulai berubah. Degradasi. Dekadensi. Tak lagi gagah menentang. Mulai takut kepentinganmu yang digoyang. Mulai banyak … Continue reading Berkarat

Menjadi Budak

Telah rusak menghamba. Pada kesedihan yang telah pasti dan yang akan pasti. Hingga barut pedih membalut raga, tak juga gentar ada. Entah bodoh entah gila tapi tiap luka membakar kembali cinta. Hingga mendidih terus menguasai sukma. ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Aku yang terlanjur tunduk pada Eros tak mundur walau tombak Ares menembus hulu hati. Aku berlari meneriakkan namamu … Continue reading Menjadi Budak

Menikmati Kerugian

Kau memuja didihan darah dalam nadimu. Terus mengisi kepalamu yang penuh dengan harap yang kaucipta sendiri. Kaugadai semua hanya untuk segenggam adrenalin. Oh betapa kegaduhan kaunikmati. ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Hidup hanya soal menghitung kemungkinan, katamu. Kaugulir peluang segera setelah kaudapat kepastian. Hanya butuh satu angka lagi, dan segala kemenangan kau menjadi. Matamu membesar melihat angka yang bergoyang. … Continue reading Menikmati Kerugian

Lau Langit

Aku ingin melayang menuju matamu yang angkasa. Mencari tepinya yang selalu menggoda untuk ditemukan. Aku ingin terus mengulang memandang langit ketika kita jauh, aku percaya kaki-kakinya telah jadi penghubung kita. Aku tak pernah mampu lari darimu, kau yang teduh tanpa pernah mengeluh. Oh betapa jemu akan orang-orang yang bicara senja, mereka tak pernah tahu cantik … Continue reading Lau Langit

Luruskah?

Sepertinya mudah saja. Jalan sudah ditunjukkan, arah telah ketahuan, tinggal ikut saja. Sayangnya tak begitu adanya. Banyak simpang yang mematikan. Kiri bukan main tantangannya, tapi menarik hati saja. Kanan bukan main sejuknya, tapi semangat membara. ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Tergoda oleh pesona tiap belokan dan lengkungan. Kau kehilangan arah. Kaulimbung ke kanan, lalu oleng ke kiri. Acak-acakan. Tapi … Continue reading Luruskah?

Jalan Setapak Kita?

Waktu itu kau dan aku berjalan bersama, di jalan setapak menuju tepi hutan. Kita biasa bermain di kebun orang. Menaiki pohon pinang tertinggi, untuk terlihat kuat saja. Melompat dari pokok jambu biji, ah untuk kena angin saja. Lalu berayun di pelepah kelapa, langsung meluncur ke sungai. Teriak "Awuo!" seperti Tarzan di film animasi pagi minggu. … Continue reading Jalan Setapak Kita?

Yang Hidup di Tepi Jalan

Mencoba mekar semekarnya. Bukan lagi kembang, tapi mencoba terus berkembang. Hingga langit menuju awal terang kau tetap tampil, melambai tangan. Pada kendaraan yang melambat. Mencari sejumput kesenangan. Surga yang kian tak berharga kau tawarkan. ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Kemiskinan yang tak berseri ini jadi tanahmu, mudahnya jadi pengangguran memupukmu, tuntutan hidup yang tak terbeli menyirammu. Senyum anakmu sinar … Continue reading Yang Hidup di Tepi Jalan

Satu Lagi yang Kekal

Lagi, kita menjejalkan keingintahuan kepada kesemuan. Dan lagi, kita buta akan kebenaran. Keingintahuan akan siapa pun yang kita anggap merusak. Entah apa yang dirusak kita tak lagi benar peduli. Lalu dengan layar sekian inci kita mendakwa. Kita membingkai sesuka kita. Bahkan hakim tak lebih hebat dibanding kita. Oh Arogansi nihil empati. ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ Pun kita tak … Continue reading Satu Lagi yang Kekal